Global Var

Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Menuju Pembodohan Diri yang Mulia

Perjalanan selalu menyisakan kerak memori yang mengendap dengan lembar-lembar tipis yang menebal. Perjalanan selalu menyisakan sebuah cerita yang layak dijadikan pelajaran, atau hanya sekedar berguna untuk dituliskan. Karena sifatnya yang menemukan sesuatu yang baru dengan kepekaan indra sepanjang perjalanan, sering pula muncul suatu proses asosiasi pengalaman yang akan menimbulkan 'masalah' dalam pikiran. Masalah itu harus terselesaikan. Harus terpikirkan, dan terkeluarkan.

Lepas dari banyaknya pelajaran yang dapat diserap selama perjalanan berlangsung, pada awal sebelum perjalanan dilaksanakan, mungkin setiap orang tidak merasakan adanya suatu 'keganjilan' yang melingkupi hidupnya. Kebanyakan orang tidak merasakannya karena indra kepekaannya telah terselimuti oleh kabut bernama kebiasaan. Suatu kesenjangan akan datang setelah adanya perbedaan persepsi asing yang menyergap sebagai oleh-oleh hasil perjalanan.

Contoh yang paling sederhana namun sangat telak cambukannya, adalah ketika seseorang merasa pintar dan baik-baik saja dengan keadaan fisik, jiwa dan otaknya. Atau setidaknya, seseorang merasakan tidak adanya keganjilan dan merasa tidak ada apa-apa dengan dirinya sendiri. Ada kalanya, hal itu dikarenakan oleh keberadaan seseorang yang hanya ada dalam lingkup kebodohan, atau berada pada lingkungan orang-orang yang tidak suka berfikir, bertukar gagasan, atau bahkan sekedar membaca dan mencerna suatu informasi. Selain lingkungan yang tidak mendukung, ternyata perasaan pintar, atau setidaknya baik-baik saja itu kerap dikarenakan perkumpulan yang dimasuki oleh seseorang tersebut hanyalah kumpulan orang-orang yang berada satu tangga lebih rendah darinya, atau setidaknya sejajar dengannya.

Apa jadinya ketika orang tersebut tiba-tiba dalam suatu kesempatan membaur dengan orang-orang yang berada dalam satu atau beberapa anak tangga lebih tinggi dari padanya? Hal ini jelas melahirkan suatu masalah. Orang, bisa dikatakan sebagai orang pintar tatkala berada dalam lingkup orang yang lebih bodoh darinya. Akan tetapi dengan kemampuannya tersebut, akan sangat gampang menjulukinya sebagai orang bodoh ketika berada pada deretan orang yang cerdas dan cerdik.

Dalam suatu kajian siang telah disebutkan bahwa, ada langit di atas langit. Ya. Dan itu bukan merupakan suatu kebohongan. Seseorang bisa saja mengklaim dirinya sebagai orang yang pintar dengan bukti-bukti yang nyata. Tapi perlu dicatat bahwa ketika dalam keadaan tersebut, dia sedang berada dalam lingkup kebodohan yang telah melingkung. Itulah sebabnya mengapa terlahir sebuah pemikiran bahwa semakin seseorang berani untuk 'keluar' dan mengetahui sesuatu, maka semakin pulalah ia merasa bahwa dirinya adalah bodoh, dekil, dungu dan kecil. Dan karena itulah mengapa, untuk menjadi orang yang tidak sombong, maka lihatlah ke atas, maka kita akan menemukan suatu lingkup kebodohan yang tidak layak untuk dipamerkan.

Surabaya, 01 Juli 2013
Dalam lingkup kebodohan.


Refresh Otak

Aaaaaaaaaaaaaaahh, ternyata sudah lama sekali ya saya tidak nyantolin tulisan-tulisan saya di blog? Wah, sebenarnya, jika boleh jujur, banyak sekali pikiran, ide dan perasaan yang sangat ingin saya tuangkan dalam bentuk tulisan, tapi endingnya ternyata sangat menyedihkan dan hanya berakhir pada kolam mimpi. Nyiahahahaaa... saya bilang dulu juga apa? Kata pelatih nulis saya, orang menulis itu seperti berenang. Jika nggak langsung 'nyemplung',  ya nggak basah. Iya apa iya?

Oke, ngomongin dunia tulis menulis emang nggak akan ada habisnya. Artinya, adaaaaaaa aja yang perlu dan harus dibicarain. Tentang menulis di tempat yang baru dan berbeda misalnya, bisa kita masukkan dalam kategori kegiatan yang bisa menimbulkan stimulus berupa semangat untuk meciptakan karya tulis. Suasana yang berbeda akan melahirkan suatu ide yang fresh juga dalam otak kita. Karna sebelumnya otak kita pernah mengalami keadaan fresh, lalu loyo dan pada saat tertentu menjadi fresh kembali, maka keadaan untuk mencapai kefreshan lagi tersebut bisa kita namakan sebagai kegiatan me-refresh.

Kita menulis, kenapa yang di bahas merefresh otak? Bukannya merefresh tulisan? Ya. Karena ternayata selalu saja menulis itu membutuhkan peran otak yang aktif berkerja. Kita, mempunyai kekuatan sebesar apapun, keinginan sepanjang apapun, jika otak atau pikiran kita nggak nggathuk, hasilnya akan sia-sia belaka. Berbentuk tulisanpun, pasti hasil akhirnya akan ambur adul. Konklusinya? Itu bukan tulisan, tapi hanya deretan kata tanpa makna, tanpa maksud tujuan.

Nah, itulah mengapa untuk edisi kali ini, setelah saya terminal terlalu lama dalam menulis, dan ternyata setelah mendapat tempat baru saya bisa menulis, saya pun menulis dan membicarakannya. Bahwa menulis itu bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan juga termasuk sesuatu yang menakutkan dan sesulit memotong tali baja. Intinya, jangan terlalu meremehkan, juga jangan terlalu menganggap sulit. Yang harus kita lakukan hanyalah mewujudkan suatu keadaan dimana otak kita mau untuk bekerja lebih kreatif lagi. Selamat mencoba!

Sidoarjo, 24 Juni 2013
Malam pertama di tempat pengabdian

Tips Agar Masakan Terasa Enak

Mungkin anda mengira jika yang akan tersaji dalam tulisan saya kali ini adalah cara-cara meracik bumbu dengan segala aksesoris dan prosedurnya. Seperti 3 siung bawang merah, satu sendok merica bubuk, atau satu piring penuh penyedap makanan, yang biasanya ditambahkan dengan tujuan untuk mempersedap makanan di lidah, bukan. Anda salah besar.

Sore itu, saya sedang berkemas setelah mengadakan pelatihan. Sebagai manager pelatihan, tidak etis rasanya jika saya pulang mendahului anggota-anggota tim saya. Secara saya bekerja, membingungkan tetek-bengek masalah yang ada dan berlangsung selama pelatihan, akhirnya saya lupa dengan kewajiban saya mengurusi perut saya yang sebenarnya telah meronta-ronta.

Sekitar jam 4 sore setelah pelatihan selesai, ternyata ada nasi kotak yang tersisa yang akhirnya saya santap ditempat. Setelah saya buka, menunya cukup istimewa; nasi putih, sayur, dilengkapi dengan ayam kecap bumbu pedas. Secara umum, jelas masakan tersebut terasa sangat enak di lidah setiap orang, kecuali orang yang memang tidak suka dengan menu tersebut, contohnya saya. Tapi dengan lahap, saya sukses memindahkan isi kotak makanan tersebut ke dalam perut saya dengan jangka waktu sesingkat-singkatnya. Woow. Amazing.

Setelah hanya tinggal satu suap saja di tangan saya, saya baru menyadari jika saya makan dengan jangka waktu yang tidak lumrah. Istilahnya waktu yang saya pergunakan untuk makan 3X lebih cepat dari waktu yang biasanya saya pergunakan di saat-saat normal. Apalagi dengan porsi jumbo plus menu yang sebenarnya tidak saya sukai tersebut. Benar-benar SS alias Super Sekali.

Serampungnya meneguk segelas air mineral yang sebelumnya sudah saya siapkan disamping saya, saya sedikit berfikir dan merenung sambil tersenyum. Dari proses yang melelahkan dan melaparkan pada hari itu, saya mendapatkan ilham berupa teori baru yang nantinya akan menjadikan suatu pelajaran berharga bagi saya. Saya tersenyum simpul dan melanjutkan perjalanan saya pulang.

Sesampainya di rumah, saya bertanya kepada teman sekamar saya;
"Mbak, tau nggak resep masakan enak itu yang seperti apa?" saya memulai percakapan.
"Ndak, wong masak saja saya ndak bisa kok"
"Mau ndak saya kasi tau resepnya apa?"
"Memangnya apa?"
"KELAPARAN" 
Dan teman kamipun bersama-sama menyunggingkan seulas senyuman.

Edcur Bag 1

gambar: http://www.kaskus.co.id
          Sesekali saya ingin menceritakan kesan-kesan saya, keluh kesah saya, susah mudah saya dalam menulis artikel fiksi maupun non fiksi. Sempat ada salah satu teman yang berkata kepada saya bahwa ia mulai menulis karena terinspirasi dari tulisan-tuisan saya yang biasa saya share di akun jejaring sosial saya (semoga dia tak membual). FIkir teman saya, saya menulis selalu lancar, mudah dan tanpa hambatan. Karena yang dia tahu, dalam satu minggu, paling tidak saya memposting satu sampai tiga tulisan dalam blog saya atau blog forum kepenulisan yang saya tekuni, FLP.

          Mungkin posisi teman saya itu sama dengan posisi saya satu tahun yang lalu. Seorang pemula yang ingin benar-benar bisa menulis dan mempublikasikan tulisan yang saya buat. Sama, saat itu saya terinspirasi tulisan-tulisan teman saya yang bernada nyastra (sastra) yang juga sering diposting dalam jejaring sosialnya. Sedikit singgungan, saya terkagum-kagum dengan tulisannya, dan endingnya saya terkagum-kagum pula pada orangnya (curhat).

          Kembali ke laptop. Dalam menulis, banyak kenyataan-kenyataan pahit yang menghambat laju tulisan-tulisan yang saya buat. Jangan dikira menuliskan gagasan yang telah tersaji di otak itu gampang. Untuk orang setaraf saya, menulis jelas sangat susah, kecuali memang ada banyak aspek disekitar saya yang kesemuanya merupakan aspek positif yang membuat saya gampang untuk menulis.

          Contohnya ketika ada ide, dan otak saya sedang berpotensi untuk memikirkan hal yang menjangkau ide saya. Istilahnya sedang ada spasi untuk juga memikirkan kata apa yang akan saya ramu menjadi sajian lew]zat para pembaca. Yang kedua, ketika saya sedang galau segalau galaunya. Saya mengistilahkan keadaan ini sebagai galau produktif. Karena ketika saya galau dan sedih, tulisan-tulisan yang berbau sastra akan begitu saja teralirkan dari pencetan-pencetan jari saya di atas tuts-tuts keyboad saya.

          Sedangkan untuk waktu-waktu selain itu, seperti saat ini, meskipun banyak ide yang saya pendam dan belum sempat saya sampaikan dalam bentuk rangkaian kata dalam tulisan, tapi tulisan yang saya inginkan itu belum pernah berwujud. Karena apa? Jelas karena masalah-masalah di atas. Saya menulis ini hanya sebagai media untuk menggembleng saya agar tetap menulis bagaimanapun keadaannya, semampu saya. Mengingat ada suatu hal menarik yang dapat saya jadikan acuan untuk menjadi penulis, bahwa menulis itu seperti berenang. Jika ingin bisa berenang, usahanya ya harus nyemplung ke dalam air. Sama juga dengan menulis. Jika ingin bisa menulis, maka menulislah, dan berenanglah!

Nama Adalah Doa??

Sepanjang, 2006
"Harirotul Fikri!!". Guru Bahasa Arab memanggil namaku dengan keras. "Susunan apa nama kamu itu Har?" Beliau melanjutkan. "Emmm... Nggak tau pak, Afwan" Aku menjawab disertai dengan senyum amat manis yang pernah aku punya. "Makanya, kalau ingin tau susunan suatu kalimat, selain dilihat dari ciri-ciri fisiknya, ada baiknya juga dilihat dari sisi maknanya juga. Kamu tau Har, apa arti dari nama kamu?" Aku kembali menggeleng. Bukannya aku 'buta' akan arti namaku, pernah sesekali aku membuka kamus bahasa arab (bukan punyaku pastinya) dan mencari apa arti dari namaku. Setelah aku cek dan ketemu, ternyata arti dari nama depanku adalah 'Sutera', dan arti dari nama belakangku adalah 'Berfikir'. Tapi endingnya tetap, aku tak bisa menerka maksud dari namaku. "Hariroh itu artinya 'Sutera', sedangkan Fikri artinya 'Berfikir', jadi maksud dari nama kamu adalah 'Kelembutan Berfikir'". Belum sempat aku menikmati dan membanggakan arti dari namaku, tiba-tiba ada salah satu temanku menyeletuk : "Iya pak, saking lembunya, kalo mikir sampe kebawa tidur". TEK!! Nama adalah doa. Itukah artinya?

Malang, 2012 (Hari ini)
 "Hariroh" Dosen Teologi Islam menyebutkan namaku dengan suara lirih saat gliran pengabsenan namaku telah tiba. "Ada pak!!" Jawabku mantap. "Har, kamu tau nggak apa arti dari nama kamu?" Hassssh.. Lagu lama, menanyakan arti dari namaku. Tapi jawabanku tetap sama. "Tidak pak!" Intinya aku jawab seperti itu tak lain adalah aku selalu tak yakin dengan arti dari namaku sendiri. Namaku mengandur arti kiasan, mengandung arti tersembunyi, tidak seperti nama 'Uswatun Khasanah' mungkin, yang artinya udah pasti : Teladan yang baik. Atau Sholeh misalnya. Tapi aku sadar, hanya nama-nama yang berkiaslah yang akan dipertanyakan. Karena harus dipikir lebih lanjut, mungkin. "Harirotul Fikri itu artinya 'Kemerdekaan berfikir', jadi kamu dikelas harus aktif". Dan aku tanggapi dengan senyum merekah. Aku senang dengan arti dari namaku yang versi kali ini.

Ya. Lumayan lama aku merenungi arti dari namaku yang kembali dibahas dikelas. Dari sekian kali pembahasan namaku dikelas, baru sekarang aku tertarik untuk memikirkannya lebih lanjut. 'Kemerdekaan Berfikir', ketika mengingat kata itu, yang terbesit dalam benakku adalah sosok cara berfikir yang bebas, tanpa batas, dan tanpa ujung. Kadangkala juga bersifat 'Tak bersekat'. Cara berfikir seperti ini kadang-kadang bisa ngawur, tak memiliki batas dimana suatu hal bisa dikatakan layak untuk difikirkan, yang tak layak untuk difikirkan, dan mempunyai cara berfikir sepeti orang-orang disekitar atau lumrahnya orang punya fikiran tentang suatu hal, itu pasti.

Iseng-iseng juga aku kaitkan arti namaku diatas dengan keadaan yang sedang aku alami. Posisiku dalam keluarga seperti apa, atau dalam pertemanan mungkin? Atau tingkat ketidaksetujuan orang disekitarku atas kemiringan pikiranku, dan ternyata tak banyak meleset.

Dalam kehidupan keseharian misalnya. Jika aku merasa takut dan bingung untuk menghadapi dampak dari suatu perilaku yang telah aku lakukan, aku tidak hanya berfikir satu hal dampak yang mungkin terjadi. Itu benar kawan, tidak hanya satu, dan itu banyak sekali. Pernah suatu ketika aku mengungkapkan semua jenis unek-unekku pada teman yang aku anggap sebagai teman baikku, dan reaksinya sangat amat tidak mengenakkan. Mereka bilang kegalauanku tak berdasar. Mereka bilang kegalauanku sangat tidak mungkin terjadi, dan mereka bilang kegalauanku sangat tidak logis! Ketika aku menjelaskan betapa mungkin hal itu terjadi, mereka malah menyerang ulang jika orang lain tidak akan pernah punya pikiran sekonyol pikiranku. Dan hasil konsultasiku pun gagal: Aku tetap merasa galau.

Tak banyak beda dengan suasana dirumah ketika aku mengungkapkan pikiranku yang aku sebut nylempang dengan pikiran orang rumah. Oke, gampangnya aku anak yang berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain: Kalau saudara-saudaraku semua bertipe penurut, aku pemberontak. Selalu menjawab apa kata orang tua jika tak bisa aku paksa masuk pada pikiranku. Seringkali aku merasa dianaktirikan atas tindakanku yang mungkin tdak sesuai dengan keinginan mereka. Sakit hati juga sering aku rasakan, meskipun aku juga jago menyembunyikannya. Dan aku tau apa penyebabnya, yakni pola pikirku yang tak sejalan dengan pola pikir mereka.

Sekarang aku jadi mikir, yang memberi nama aku itu siapa? Jika banyak yang mengatakan kalau Nama itu adalah doa, dan ketika doa itu telah dikabulkan oleh Yang Di Atas, kenapa anak yang harus disalahkan??

Ditulis dengan hati yang galau.
Dikamarku, yang aku paksakan untuk jadi Istanaku.

Bangkit dari 'KUBUR'

Gambar disadur dari mesin yang biasanya kita anggep kakek
kita pemirsa, maklum, penilis gak ada waktu buat nggambar
sendiri, heheee
          Taraaaaaaaaa!! Akhirnya si Sleeper dateng lagi kehadapan para pembaca sekalian. Setelah lama (sok) sibuk dengan tugas-tugas UAS yang Subhanallah banyaknya, Subhanallah Sulitnya, dan Subhanallah menyita waktunya, akhirnya hari yang dinanti-nanti tiba: yaitu hari dimana si Sleeper dapat tetidur nyenyak berdampingan dengan pasangan hidupnya atau biasa disebut dengan kekasih (Baca : Guling). Selain itu, mulai sekarang sampe 2 bulan kedepan, kayaknya si Sleeper bakalan lumayan eksis nih di dunia maya, maklum kata emak, daripada kelayapan gak tentu arah malah ngabisin banyak duit (padahal gak ada yang bisa diabisin), mending buat beli pulsa modem *tiiiiiiiit* yang paling irit, cuma 45 rebu rupiah perbulan pemirsa.
          Nah, ngomong-ngomong soal ujian nih pemirsa, ada 3 cerita yang agak berbau aneh mungkin, yang gak semua orang pernah ngalamin hal-hal kayak gini, kecuali orang yang agak nggak pinter dan males kayak yang nulis ini,hehehee. Okelah pemirsa, langsung cekidot ke topik pembicaraaaaaaaan. KEMBALI KE LAPTOP!!
          Langsung aja ya pemirsa, ternyata gak salah juga kalo Blog kesayangan gue ini gue kasi nama "Fikri Sleeper". Tanya kenapa-tanya kenapa???? Tau gak apa yang gue lakuin kalo gue lagi ujian dikelas dan kena syndrom "Speechleskologi"?? Mungkin sebelum gue ngejawab pertanyaan para pembaca, gue perlu ngejelasin ke pembaca sekalian apa itu sindrom "Speechleskologi". Sindrom Speechleskologi adalah semacam sindrom kimiawi yang sering menyerang para malesiawan dan malesiawati. Syndrome ini datang ketika para malesiawan dan malesiawati menjalani ujian tulis maupun lisan di dalem ruangan dan tentunya dijaga ketat oleh orang-orang yang sok gak pernah nyontek waktu masih jaman kuliahnya dulu *Ouups*. Dengan terkena sindrome Speechleskologi ini, sang penderita biasanya merasa kebingungan tentang apa yang akan dituliskan pada kertas kosong yang ada dihadapannya. Mereka bingung memilih huruf mana dari huruf A sampai Z, dan angka berapa dari 0 sampai 9 serta segala aksesorisnya yang layak nangkring dilembar jawaban ujiannya. Orang yang normal akan mengalami suatu kegugupan luar biasa, apalagi kalau melihat salah satu temannya telah menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu dan dengan gaya pamernya berjalan dengan cara menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kelas waktu ngumpulin hasil jawabannya. Orang normal juga biasanya mempunyai reaksi-reaksi biologis pada tubuhnya: kadang tubuh sang penderita akan gemetar, telapak tangan berkeringat dan dingin, serta degup jantung yang meningkat. Nah, yang jadi pertanyaan besar adalah : APA YANG SLEEPER LAKUIN WAKTU TERKENA SINDROM SPEECHLESKOLOGI???? Jawabannya sudah bisa ditebak pemirsa, YAP!! mencari ilham dan jawaban di dalam mimpi. Lho???
          Pengalaman selanjutnya nih pemirsa, berangkat dari nasehat dosen Konstruksi Alat Ukur gue yang mayoritas mahasiswa Psikologi angkatan gue bilang kalo si dosen ini cantik abis, fashionable, dan usut punya usut, ternyata si dosen belum nikah alias masih single, beliau bilang kalo ngerjain tugas itu lebih baik di cicil  sedikit demi sedikit. Katanya sih layaknya peribahasa Jawa yang (kalo gak salah) berbunyi "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit" atau peribahasa Inggris yang berbunyi "Alon-alon waton kelakon" atau (lagi) peribahasa yunani yang mengatakan bahwa "Witing trisno jalaran soko kulino" Loh? Ngawur!! Intinya simpel aja sih sebenernya, yaitu Mahasiswa dan seluruh pelajar di Indonesia tidak dianjurkan untuk menerapkan SKS dalam belajar. Kalian tau SKS? Yap! Sistem Kebut Semalam, atau lebih parah lagi, SKS adalah Sistem Kebut Sejam, atau Semenit mungkin??
          Parahnya nih pembaca, nasehat sang dosen cantik ternyata hanya bisa berlaku untuk orang normal. Kalian tau nggak sih apa alasan si Sleeper lebih memilih SKS daripada AAWK (Baca : Alon-Alon Waton Kelakon)? Alasannya adalah si Sleeper tidak mempunyai cukup konsentrasi ketika harus serius ngerjain tugas kalo gak ada suatu ancaman yang mengatakan bahwa BESOK PAGI TUGAK UDAH HARUS DIKUMPULIN. Dalam artian, kalo jadwal ngumpulin tugasnya masih lama, ternyata fesbuk sama twitter pengaruhnya jauh lebih besar daripada tugas. Nah loh, ini sebenernya kelainan genetik apa salah pergaulan sih??
          Sudah. Itu dulu pemirsa, intinya adalah gue sekarang udah kembali ke dunia blog gue, udah kagak ngglutek di dunia tugas kuliah lagi. Seandaenya disuruh ngomong nih, seberapa tinggu kejenuhan gue ngadepin semester 4 ini, gue bakalan tanya balik sama si penanya, emang patokan mentok paling tinggi berapa? Itulah yang gue pilih. Hikmah yang bisa gue ambil neh pemirsa, bahwa Tuhan nggak akan ngasi cobaan pada hambaNya melebihi kemampuan yang dimiliki hamba tersebut. Terbukti kan, saat gue berada di titik jenuh paling tinggi, Tuhan menyudahi cobaanNya (Baca : Tugas Kuliah). Okelah, semoga di semester 4 ini gue dapet ending yang bagus, sperti yang gue dan ortu gue inginkan pastinya, soalnya (gue kasih bocoran nih) semester kemaren, ending semesteran gue lumayan tidak diharapkan pemirsa, semoga gak terulang lagi ya... Amiiiiiin.

Bawang Merah dan Bawang Putih episode 1

          Gue punya adek, namanya Anwar. Gue berani taruhan, siapa aja yang tau tentang gue sama adek gue, pasti gak akan percaya kalo dia adek gue. Percaya pun mungkin orang itu bakalan bilang kalo gue sama adek gue itu terbilang "Bainas Sama' Was Sumur". Dalam artian, adek gue sebagai "Sama'"nya, dan gue sebagai "Sumur"nya. Sebagai Sama', pastinya dia punya banyak banget kelebihan dan kebaikan yang disandang daripada sumur. Kalo ibarat film bawang merah dan bawang putih, gue udah pasti jadi bawang merah dan adek gue jadi bawang putihnya. Duh, ngenes banget kan gue ..
Kenyataan kalo adek gue bisa disebut sebagai bawang putih adalah bisa dilihat dari kebiasaannya sehari-hari, yaitu B-E-L-A-J-A-R. Kata yang asing banget di telinga gue, atau bahkan gue jadiin momok dalam keseharian gue, (karena yang biasa gue baca adalah Twitter, Facebook sama Blog gue, hehee). Gak peduli pagi, siang, sore atau malem, kalo ada waktu luang, si adek selalu aja gak pernah absen sama yang namanya buku pelajaran. Kalo gue lagi sirik sama dia, gue bakalan bilang gini: "Makan tuh buku. Atau sekalian aja dijadiin pacar!".
          Kenyataannya juga, adek gue lebih alim dan lebih rajin beribadah daripada gue. Gue sukanya mengulur-ulur waktu buat sekedar sholat 5 waktu, tapi adek gue? Denger adzan aja langsung berhenti belajar, ambil air wudlu dan berangkat kemasjid, padahal gue enak-enakan sholat bentar dikamar. Pernah gue bertanya ke dia soal pentingnya pendidikan (baca:sekolah) daripada pondok (karena dia mondok dipesantren). Dengan nada yang sangat amat mantap sekali, dia jawab gini "Jelas penting pondok lah mbak!". Saat itu juga gue langsung protes, dengan nada menggebu-gebu, gue langsung bilang "Ya lihat situasi dan kondisi lah dek, kadang pondok itu emang harus diutamakan, tapi ya ada waktu dimana kita harus ngedahuluin urusan pendidikan dulu. Sebelum menilai, lihat dulu siyuasi dan kondisinya seperti apa. Contohnya gini, kamu sekarang sibuk dengan ujian pondok, tapi kamu sekarang juga lagi sibuk dengan Ujian Nasional. Ujian pondok bisa nyusul, tapi kalo UN? emang boleh ditunda? Lagian UN juga cuma sekali tok abis itu udah". Setelah panjang lebar gue ceramah, dengan santai sang adek njawab "Udahlah mbak, penting semua kok!". Dan bisa ditebak, seketika itu juga gue langsung sewot "Pokoknya lihat sikon dulu. huh!!". Tau gue sewot, adek gue malah ngomporin gue sambil ngatain gue kalo gue ini adalah manusia yang telah terkontaminasi oleh virus kaum kapitalis. Dan seketika itu gue langsung bungkam.
          Urusan narsis nih, si adek paling anti sama yang namanya difoto. Kecuali foto KTP, SIM, dan KTM tentunya. Sedangkan gue? Foto gue difolder laptop sampe banjir bertumpah ruah (baca:nyampah). Sering banget gue pengen foto sama adek gue yang satu ini, tapi keinginan gue gak pernah dikabulin. Pernah suatu ketika gue nyolong foto sama dia, eh begitu ketahuan, camera yang gue pegang langung dirampas dan foto dia langsung dia DELETE!.
          Bukan itu saja sebenernya, urusan fisikpun gue sama sang adek jauh beda, adek gue orangnya tinggi (layaknya tinggi rata-rata cowok Indonesia), kurus dan item (hehee), sedangkan gue cukup pendek kalo dibandingin sama dia, gue subur, dan gue bisa dibilang putih. Nah lo!!
          Perbedaan yang gue dan adek gue miliki ternyata gak berhenti disitu pemirsa. Bahkan untuk urusan makanan, gue sama adek gue jauh beda. Adek gue suka kentang, gue amit-amit gak suka sama sekali, Gue suka pedes, adek gue yang nggak suka pedes. Gue suka wisata kuliner sambil ngemil gak ada hentinya, adek gue malah dengan santai bilang gini: "Masih banyak yang lebih penting daripada ini mbak!!".
          Dan lagi-lagi gue kena SKAKMAT!!

kalo gue nulis buku atau novel, judulnya "Sambutan Pengarang"

Oke pembaca sekalian, mungkin sebelum gue ngeposting tulisan yang aneh-aneh, gue pengen cerita dulu nih tentang gimana kronologi lahirnya blog gue ini. Ceritanya sangan simpel sekali sih pembaca, (hiperbola-red) berawal dari banyaknya temen-temen gue yang promosiin akun blognya yang (sumpah) keren abis. Jadi ceritanya nih, gue iri sama mereka. Semacam gengsi lah kalo semua temen gue pada punya blog sendiri, kenapa gue gak punya?. Nah itu yang pertama pemirsa, yang kedua tuh ceritanya pagi tadi ada temen sekamar gue yang lagi ribet buat nge-desain blog barunya. Waktu gue tengok ke arah laptopnya, eh ternyata blognya lumayan juga. Padahal kalo gue prediksi, dia jauh lebih gaptek daripada gue (nah, sebenernya yang gaptek gue apa dia??), padahal gue sadar sih kalo gue sebenernya juga gaptek. Nah, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan psikologi gue, dan buat mempetahanin persepsi yang udah nancep di otak gue tentang derajat ke-gaptek-an yang udah gue sebutin tadi, akhirnya gue bertekad buat akun di blog deh pada saat itu juga. Huffffft, untung sama Yang Maha Kuasa di izinin (Alhamdulillah).
Setelah searhcing di perpustakaannya mbah Gugel yang super duper lengkap (ngalah-ngalahin perpustakaan negara sebenernya), akhirnya jadi deh blog gue yang gue kasih nama sama dengan nama asli gue :
Ø  ‘Fikri’ : Berasal dari bahasa Yunani yang gue pun gak tau apa arti sebenernya dari nama gue (entar deh gue tanyain ke emak gue kalo gue lagi pulang kampung). Yang jelas, itu nama gue asli sob, note-nya, gak usah dikasih kata ‘ah’ dibelakangnya. Walaupun gue ber-gender cewek nih, untuk urusan nama, gue ngikut apa kata ortu gue dah. Inget ya, FIKRI. Bukan FIKRIYAH.
Ø  ‘Sleeper’ : Nah, kalo yang ini, katanya berasa dari bahasa Inggris pemirsa. Buat artinya, belum gue tanyain ke temen gue yang ngasih gue jabatan sebagai Sleeper dikelas (waktu SMP). Sebenernya bukan nama ‘Sleeper’ yang mereka anugerahkan ke gue, tapi ‘Sleeping’. Dan setelah gue pikir-pikir seribu kali (sumpah pembaca, gak akan kurang dari itu), kayaknya aneh juga kalo blog ini gue kasih nama ‘Fikri Sleeping’. Setau gue nih (karena gue goblok banget, apalagi soal bahasa inggris) Sleeping itu kata kerja. Nah, jadi akhirnya gini deh, maksud gue mau ngasih nama ‘Fikri si tukang tidur’ (alay) dan TARAAAA... akhirnya ‘Sleeper’ yang jadi sasaran.
Ceritanya (lagi) nih pemirsa, gue sempet bertanya-tanya sendiri ke lubuk hati gue yang paling dalem sedalem samudera Atlantik, “Ngapain juga ini blog gue kasih nama ‘Fikri Sleeper’? “. Dan 5 detik kemudian gue langsung dapet jawabannya (soal ini gue cerdas pemirsa). Alasan pertama gue adalah, gue udah puyeng banget nyari nama blog yang sreg di ati gue. Dan ternyata sekarang gue baru sadar kalo ternyata ngarang nama itu merupakan suatu hal yang super duper sulit. Jadi nih pemirsa, akhir dari pergulatan gue dengan masalah nama ini berakhir pada penjiplakan nama yang dikasih ortu sama temen gue. Alasan yang kedua adalah suatu kenyataan pembelaan atas kebodohan yang gue derita. Gue pikir, nama yang ortu kasih ke kita itu adalah suatu ‘Doa’ buat kita sodara-sodara. Nah, berhubung sama ortu gue udah di doain lewat nama gue, jadilah nama itu gue banggain dan (juga) gue jadiin sebagai nama blog gue. Gue pikir, entar juga doa ortu gue bisa mrembet ke blog gue juga, heheee. Pembelaan selanjutnya adalah keyakinan gue sendiri tentang nama ‘Sleeping’ yang dikasih temen gue waktu SMP. Gue pikir nama panggilan atau semacam julukan yang dikasih temen ke kita itu merupakan suatu panggilan sayang mreka kepada kita sodara-sodara. Dan gue pikir, kalo emang itu merupakan panggilan sayang temen-teman gue waktu SMP, kenapa musti ditolak? Toh dengan panggilan sayang tersebut, temen-temen gue bisa inget terus sama gue. Dan kalo dipikir ulang, kayaknya gak salah juga mereka ngasih nama gue dengan julukan ‘Sleeping’, hehee
                Dan ujung-ujungnya, gue harap para pembaca jangan langsung nge-judge dan ngasi modelling ke blog gue ini sebagai blog yang alay ya pembaca sekalian. Kata orang bijak, jangan menilai sesuatu dari segi luarnya saja. Artinya, lihat dan ketahui dulu apa isi yang melatarbelakangi ke-alay-an tersebut. Gue kira sekian dulu pemirsa, gue cekidot dulu ke kerjaan gue yang udah protes dari tadi.
                Salam dari gue, seekor mahasiswa bodoh yang hobi tidur :)

seandainya gue nulis makalah, namanya itu 'KATA PENGANTAR'

Dari mana dulu nih gue harus nulis? yang jelas, pertama gue kudu wajib (gak ada sunnah-sunnah segala) bersyukur pada Tuhan yang selama ini gue sembah (dan semoga jadi Tuhan gue sampe akhir hayat-- Amin). karena, atas berkat rahmat Allah YME, blog yang gue kasi nama "Fikri Sleeper" undah terbit dan siap tampil dihadapan saudara-saudara kelaian. coba kalo ternyata Dia gak ngijinin gue buat daftar blog, pasti dah nih blog gak akan tampil dan gak akan bisa dibaca sama sodara-sodara sekalian. So, silahkan bersyukur ye buat para pembaca yang udah sempet baca (atau lebih tepatnya disempet-sempetin baca blog ini karna gue paksa) blog gue ini. kan awal mulanya dari restu Tuhan juga. hehehee..
Yang kedua, (setelah bersyukur) gue harus ngucapin terimakasih nih buat ortu gue yang sangat gue sayang (serius), buat pak rektor, dekan fakultas, kepala jurusan, para dosen, asisten dosen, asinten lab, dan teman-teman sekalian yang ikut berperan serta dalam rangka penyempurnaan makalah gue ini (eh, lagi-lagi gue nyontek lagi kemakalah yang baru aja gue kerjain, hahaa.. harap maklum pemirsa, wong saya ini mahasiswa bodoh yang tiap hari dibanjirin tugas mulu biar kapok). oh, maksud gue bukan makalah pemirsa, tapi blog ini nih, udah selesai kan? makanya silahkan dibaca! gak haram kok. Sumpah!! buat nama dan jabatan yang udah gue sebutin diatas tadi, MAKASIH YEEEE...
Dan akhirnya seperti ini lah pemirsa, (PEMBACA-red) ternyata nasib gue nyangkut di blog yang semoga bisa gue jadiin sebagai 'Diary' kehidupan gue (maklum pembaca, kocek gue udah terlalu tipis kalo harus beli buku diary yang warna dan desainnya keren). Juga semoga blog ini bisa gue jadiin sebagai media buat numpahin semua inspirasi tolol nan bodoh yang selama ini gue sandang dan produksi, juga sebagai media buat gue dalam rangka mencaci maki orang yang gue benci (eh? sadis amat, yang terakhir gak usah dimasukin ati ya pemirsa...).
Okelah pemirsa, kita tunggu saja, postingan tolol apa yang bakalan gue torehkan di blog gue yang (sumpah) jadul sekali ini.. kritik dan saran pembaca sekalian sagat gue harepin loh. (tapi plis pemirsa, jagan bernada menghina ya?). dan lagi-lagi (sama dengan isi makalah yang barusan gue ketik) saran dan kritik yang pembaca tinggalin entar, bakalan gue jadiin sebagai 'bahan dasar' buat kebaikan pada postingan-postingan selanjutnya. cukup itu saja pemirsa, Salam cinta dan sayang dari gue :)