Global Var

Ingin menulis? Baca ini dulu!



Ali bin Abi Thalib. Siapa sih yang nggak kenal dengan sosok besarnya? Secara beliau adalah salah satu orang penting dalam dunia Islam. Selain sebagai khulafaur Rasyidin, beliau juga termasuk sahabat Nabi yang merangkap pula sebagai suami dari sayyidah Fathimah Azzahra yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak dari nabi Muhammad SAW, nabi besar umat Islam.

Selain berkutat dalam masalah politik kepemimpinan serta agama, ternyata beliau juga termasuk orang yang peduli terhadap dunia tulis menulis. Dalam kepedulian beliau kepada dunia tulis menulis, Kholifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata demikian: “Setiap penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” 

Cuplikan diatas memberikan banyak pengertian tentang menulis terhadap kita. Pertama, bahwa tulisan tidak akan mati, sedangkan penulis pasti akan mati. Seperti yang telah kita pahami bahwa penulis adalah makhluk hidup yang pasti akan menemui ajalnya dan pasti akan lebur termakan usia. Sedangkan karya tulis, akan tetap ‘ada’ atau hidup meskipun sang penulis telah menyatu dengan tanah. Kita sebagai manusia tidak akan bisa melawan kodrat tersebut. Dan disinilah letak telak pilihan manusia bahwa jika ingin dirinya abadi, maka tulisan akan menjadi salah satu solusi.

Yang kedua adalah seruan untuk menulis sesuatu yang dapat membahagiakan diri penulis di akhirat kelak. Menulis itu mudah. Tinggal menekan tusts-tuts keyboard, menggerakkan pena di atas kertas, menuangkan apa yang ada di otak dan pikiran, sudah. Jadi. Tapi menulis dengan kriteria yang dapat membahagiakan penulis sampai di akhirat nanti? Tentu tidak mudah.

Seperti yang kerap kita jumpai dalam majalah-majalah, koran dan media-media cetak yang lainnya telah banyak bermunculan berbagai tulisan yang bernada ‘tak mendidik’. Tak mendidik dapat kita lihat dari sudut kualitas maupun kuantitas dari eksistensi tulisan itu sendiri. Lebih-lebih tulisan atau artikel yang kerap berbau pornografi. Hal ini tidak sepenuhnya salah penulis. Konsumen tulisan atau pembaca juga ikut andil dalam pemasaran tulisan. Semakin banyak peminat suatu ‘genre’ tulisan, maka tulisan-tulisan macam itu pula yang akan semakin menjamur dalam masyarakat.

Sebagai penulis, juga manusia yang terikat oleh berbagai norma kehidupan, penulis seharusnya menerapkan norma-norma tersebut juga dalam tulisan yang ditorehkan. Norma-norma tersebut tidak lain adalah untuk menciptakan suatu tulisan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tapi juga merangkap banyak manfaat bagi penulis maupun pembaca. 

Menulis ada kalanya bermanfaat untuk penulis saja, untuk pembaca saja, untuk penulis dan pembaca dan juga sebaliknya. Menulis yang baik adalah apabila penulis mampu mewujudkan suatu manfaat nyata bagi penulis maupun pembaca. Menulis yang baik akan juga mempertimbangkan pembaca saat membaca tulisan yang ia buat. Dan yang paling penting adalah menulis yang baik berarti menuliskan sesuatu yang dapat bermanfaat selamanya. Dalam artian dapat bermanfaat di dunia dan di akhirat.

Yang ketiga, sebagai manusia yang mempercayai dan beriman kepada hari akhir, sudah seyogyanya kita juga menyadari bahwa setiap apa yang kita kerjakan di dunia sekarang, ada kalanya akan berdampak baik di akhirat, juga ada yang akan berdampak buruk. Jadi dalam menulis, jika ingin menulis sesuatu yang dapat juga dihubungkan dengan urusan akhirat yang baik, maka tulisan yang dibubuhkan juga harus terikat pada norma-norma aturan agama yang telah ditentukan.

Maka, tulislah sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi semua oknum yang terlibat dengan tulisan tersebut agar tulisan yang dituangkan dapat membahagiakan kita sebagai penulis di akhirat kelak.

Wallahu A’lam.

Ngerayain 'Harlah', Why not???!!

Huaaaaaaah Guys, akhirnya punya inspirasi lagi buat nulis di blog yang paling saya sayang ini (soalnya nggak punya blog lagi selain ini, hehehee). Udah lama banget kan saya nggak ngeposting tulisan-tulisan saya yang terkadang ber-genre ngawur? Bahkan dibagian arsip blog aja nggak ada postingan sama sekali di bulan Desember 2012. Yah begitulah, sebenernya saya juga pengen sih posting-posting tulsan seperti biasanya. Tapi kalau nggak ada inspirasi mau nulis apa, gimana dong? Kalo udah ada yang pada kangen dengan tulisan saya, inilah saatnya Superman beraksi. Ciaaaaaaaaaat!!!! Looh??

Langsung aja nih, kali ini saya mau sedikit bicara soal Harlah. Ada yang nggak tau harlah? Kalo ada yang nggak tau harlah itu apa, harlah itu adalah 'hari lahir'. Atau kalo masih ada yang kurang ngeh, harlah itu biasa kita sebut sebagai Birth day, UT atau Ulang tahun, dan lain sebagainya. Nah, udah dong kan sama yang saya maksud dari judul tulisan ini? "Ngerayain Hari Lahir, Why Not??!!"

Pertanyaan penting nih, kenapa sih hari ini ngangkat tema tentang harlah? Ehm, Karena eh karena, hari ini nih, juga lagi ada orang penting yang lagi ulang tahun. Perayaannya nggak tanggung-tanggung Men!! Yang ngerayain adalah ummat Islam diseluruh pelosok dunia, cuy! Gila, keren banget kan tuh orang? Tau nggak siapa? Yup! Now, is a birth day our prophet Muhammad SAW. Hayoh, siapa yang lupa hari sepenting ini? Kebangetan deh kalo sampe lupa.

Ah yeah. Tuajuan saya nulis ini bukan untuk berdakwah, sok bijak, pamer ataupun semacamnya. Nggak muluk-muluk deh buat hal yang sat ini. Tujuannya hanya untuk belajar dari peristiwa-peristiwa penting yang seharusnya bisa aku pelajari, dan ternyata sampai hari ini, saya masih belum bisa mempelajarinya. Atau mungkin kalian juga belum bisa jalanin? Nah, kalo belum, paling tidak mulai sekarang kita bisa ambil pelajaran, urusan praktek, itu setelah kita belajar, kan?

"Happy Birthday Friend, Wish You All The Best!!" Asing nggak dengan pernyataan ini? Atau kalau ada yang kebetulan baca postingan status Facebook saya tadi malem, yang kurang lebih bernadaseperti ini, "Happy Birthday My Beloved Prophet Muhammad SAW. Allahumma Shalli 'Alaih". Nah, jadi gimana nih? Masih asing, atau cuma salah satu yang bernada asing? Hehehee.. 

Kedua pernyataan diatas cuma hasil penduplikatan kata saja sih bagi saya, pemaparannya seperti ini:
  1. "Happy Birthday Friend, Wish you all the best!!". Loh, kenapa saya bilang ini sebagai suatu penduplikatan dari kata "Happy birthday my beloved Prophet Muhammad SAW. Allahumma Shalli 'Alaih"? Mmm... Mungkin jawaban saya bakalan rada ngawur, hehehee (as ussual). Menurut saya, penduplikatan itu terletak pada hukum perbolehan akan pengucapan kata itu sendiri. Yang pertama nih, sebagai bentuk perbolehan akan adanya perayaan ulang tahun. Nah, selama ini ada aja kan yang bilang kalo ngerayain hari ulang tahun itu nggak boleh, atau bahkan haram. Nah, kalo misalnya haram nih, mengapa harus ada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW? Hari kelahiran orang terpenting dalam Islam aja boleh diperingatin, ngapain kita enggak? Yang kedua, kata "Wish you all the best". Mungkin lebih meniru kata "Allamumma Shalli 'Alaih" kali ya? Loh, kok bisa? Iya, isinya kurang lebih sama, yakni mendoakan kebaikan untuk orang yang berulangtahun. Mendoakan kebaikan, masa ya nggak boleh?
  2. Yang kedua kata "Happy Birthday our beloved Prophet Muhammad SAW" ini saya rasa cuma hasil rekayasa duplikatan yang saya buat biar lebih terlihat modern. hehehee.. yang penting satu deh, ngucapin atau ngerayain hari ulang tahun itu nggak ada salahnya.

Nah lo, sekarang udah ngerti kan apa yang saya maksud? Yang saya maksud, meniru itu boleh, asal yang ditiru itu adalah sumber yang bener-bener udah teruji kebaikannya. Ngerayain hari ulang tahun misalnya, tiru tuh hari perayaan ulangtahunnya Nabi Muhammad SAW. Banjiri terus orang yang berulang tahun itu dengan beribu-ribu doa kebaikan. Kali aja entar kita kecipratan pahalanya :)